Workhop Desa Mandiri Pangan 2018

Berpatokan pada kondisi dimana belum semua rumah tangga di Indonesia mampu memenuhi ketersediaan pangannya maka pada tahun 2006 pemerintah, melalui Badan Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian, meluncurkan Program Aksi Desa Mandiri Pangan, yang disingkat Proksi Desa Mapan. Program ini bersifat nasional, yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat melalui pendayagunaan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal di pedesaan. Proksi Desa Mapan yang dilaksanakan di Provinsi Jambi sejak tahun 2006 hingga tahun 2008 telah mencakup 52 desa, yang berlokasi di 11 kabupaten / kota. Pelaksanaan program ini didukung oleh berbagai sumber dana yaitu APBN, APBD provinsi dan kabupaten / kota. Secara bertahap program ini akan diperluas sehingga dapat mencakup 120 desa beresiko rawan pangan di Provinsi Jambi. Mengingat cakupan dari program ini cukup luas serta membutuhkan anggaran pembinaan yang tidak sedikit maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui apakah sasaran yang ditetapkan dari program ini dapat dicapai. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya hasil kajian mengenai kinerja pelaksanaan Proksi Desa Mapan dalam memenuhi sasaran yang telah ditetapkan.

Prinsip dasar pelaksanaan Proksi Desa Mapan adalah upaya mengatasi kerawanan pangan dan kemiskinan di pedesaan melalui proses pemberdayaan masyarakat untuk mengenali potensi dan kemampuannya, mencari alternatif peluang dan pemecahan masalah serta mampu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumberdaya alam secara efisien dan berkelanjutan sehingga tercapai kemandirian pangan. Sasaran utama penerima manfaat program ini adalah rumah tangga miskin di desa rawan pangan. Rumah tangga miskin ini dihimpun dalam suatu wadah, disebut dengan kelompok afinitas, yang diikat dengan rasa kesatuan dan kebersamaan oleh jaringan persahabatan sehingga memungkinkan mereka mampu untuk melaksanakan kegiatan tertentu secara bersama. Guna mendukung kegiatan kelompok afinitas maka disediakan bantuan sosial oleh pemerintah serta pembinaan secara rutin oleh petugas pendamping.
Pemberdayaan masyarakat di lokasi program dilakukan melalui pelatihan, pendampingan dan peningkatan akses untuk meningkatkan partisipasi, demokratisasi, pengembangan kapasitas, pengembangan ekonomi dan pengembangan individu. Sasaran pemberdayaan ditujukan untuk mengembangkan kelembagaan aparat, kelembagaan masyarakat, dan kelembagaan pelayanan di pedesaan. Penumbuhan kelembagaan di pedesaan meliputi kelompok afinitas, TPD (Tim Pangan Desa), LKD (Lembaga Keuangan Desa) yang didukung oleh peningkatan infrastruktur pedesaan sehingga diharapkan mampu mengembangkan sistem ketahanan pangan yang dapat meningkatkan ketersediaan dan akses pangan rumah tangga, berkembangnya usaha produktif dan berkembangkan pola konsumsi pangan beragam bergizi seimbang dan aman. TPD merupakan salah satu unsur kekuatan masyarakat, yang terdiri tokoh masyarakat dan perwakilan kelompok afinitas, yang diharapkan akan mengabilalih pembinaan kelompok afinitas setelah berakhirnya masa kerja petugas pendamping. Dengan demikian setelah program ini berakhir diharapkan akan tercapai ketahanan pangan dan gizi masyarakat desa secara berkelanjutan.
Secara umum tujuan program ini adalah meningkatnya ketahanan dan gizi masyarakat melalui pendayagunaan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal pedesaan. Secara khusus tujuan tersebut dirumuskan menjadi: (1) Meningkatnya kemandirian masyarakat; (2) Meningkatnya peran dan fungsi kelembagaan masyarakat desa; (3) Berkembangnya sistem ketahanan pangan masyarakat desa; (4) Meningkatnya pendapatan masyarakat; (5) Meningkatnya aksesibilitas pangan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *